Pencak Silat merupakan salah satu bentuk seni bela diri yang sudah tidak asing dalam pandangan masyarakat. Olah raga pencak silat merupakan salah satu olah raga yang sangat penting, selain digunakan untuk menjaga diri (bela diri), jika mahir pencak silat pun dapat mengangkat derajat dan martabat, pribadi maupun kelompok, bahkan yang mengharumkan nama daerah atau bangsa, apalagi jika menjadi juara PON misalnya. Mungkin Akhir-akhir ini kebanyakan orang masih demam bola, PIALA EROPA masih hangat, dan akan mencapai puncak.
Alih-alih pembicaraan tentang dunia bela diri, bela diri yang dimaksud di sini adalah SHOTO-KAI. Sekilas ketika menyebutnya, mungkin kita merasa heran, kok namanya mirip makanan sich? Ya itu sekedar nama. Di halaman Kantor Camat Batulayar, setiap Senin, Kamis sore dan Minggu pagi terdapat tak kurang dari 15 belas anak-anak sedang dilatihan pencak Shoto-KAI. Jusiah selaku pelatih Shoto-Kai hampir dua tahun melatih anak-anak yang kebanyakan berusia sekolah tersebut di halaman Kantor Camat Batulayar. Bukan hanya anak dari wilayah tempat kita latihan, ada anak-anak yang datang dari luar namun masih lingkup Kecamatan Batulayar. Setiap bulan kita memungut administrasi sebanyak 20 (Dua puluh ribu) untuk satu orang anak, demikian cerita Jusiah di sela-sela latihan. Bela diri dengan konstum putih mirip Karate ini pun memiliki tingkatan-tingkatan. Tahap pemula, sabuk putih, baru kuning, hijau, biru hingga hitam. Itu tingkatannya bela jurus-jurusnya berbeda. Sabuk yang terakhir adalah sabuk hitam, begitu cerita Jusi. Setiap pertemuan, biasanya kita memberikan latihan sekitar 2 jam, ketua kita tidak dapat hadir untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat disebabkan beliau sedang menjalankan ibadah Umroh ujar pelatih asal Sesele Kecamatan Gunungsari tersebut.