Di balik gemerlapnya
hiruk-pikuk dunia wisata di wilayah Batulayar, keindahan dan kenyamanan masih
menyisakan pertanyaan. Padahal kenyamanan ikut menjadi penyeimbang dan tolak
ukur dari keberhasilan dunia wisata. Bisa dibayangkan jika suatu tempat dimana
kenyamanan tidak bisa dijamin atau tidak indah. Padahal tujuan dari
berkunjungnya tamu asing salah satunya untuk mendapatkan kenyamanan. Intinya kenyamanan
serta keindahan dunia wisata menjadi harga mutlaq.
Pemerintah Kabupaten
Lombok Barat via Kecamatan dengan mengerahkan aparat Polisi Pamong Praja (Pol.
PP), Polisi, dan Aparat lainnya seolah tidak bergigi untuk mengatasi problema
perahu nelayan yang menggangu pemandangan pantai. Hinggi hari ini belum ada
cara yang jitu untuk menyelesaikan sekelumit dari permasalahan di pinggir
pantai tersebut. Implikasi dari kesemrawutan perahu yang diletakkan di
sembarang tempat tersebut berimplikasi pada kebersihan pantai.
Ketika aturan mulai
ditegakkan, alasan datang dengan sendirinya. Misalnya, pemerintah melarang
meletakkan perahu di tempat tertetu. Alasan tidak ada sandaran, angin kencang,
hingga alasan perut dari orang
berkepentingan pun bermunculan. Aturan tidak bisa diterapkan sebagaimana yang
diingingkan. Di satu sisi, logika harus dikedepan karena para nelayan sering
beralasan bahwa pantai Senggigi (khususnya di depan Hotel Sentosa) merupakan
satu-satunya tempat yang paling nyaman dan aman bagi para pencari ikan.
Aparat Kecamatan tidak
satu-dua- kali ikut menertibkan dan mengclearkan masalah, hasilnya masih nihil.
Bahkan sebelumnya, adu mulut dari kalangan nelayan dan pemerintah sering
terjadi. Pembuatan Plank Batas tempat peletakan perahu, bendera sebagai symbol
mercusuar yang bisa menandakan tidak boleh ditempati untuk perahu, percuma.
Ketegasan pemerintah sudah cukup untuk hal penertiban perahu nelayan. Di satu
sisi nelayan seolah muak dengan aksi pemerintah yang “mementingkan sepihak”.
Jika diteliti lebih jauh,
tantangan dunia pariwisata di wilayah Batulayar khususnya berkutat pada
masalah-masalah Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Penertiban Perahu
Nelayan. Ini tak ada habisnya, hilang satu muncul seribu. Pemerintah dengan
alasan ketertiban dan keindahan, di lain pihak nelayan dengan alasan nafkah.