S
|
emangat seorang/ individu ataupun kelompok
ketika mampu menjadi yang terdepan
menjadi yang pertama mengalahkan lawan dalam
sebuah perjalanan serta proses kompetisi, apakah anda bisa membayangkan betapa
indahnya menjadi seorang Pemenang, bahkan ketika kita waktu kecil mengikuti
lomba apapun, begitu semangatnya, ingatkah ketika dulu kita bersama sahabat
masa kecil sekedar berkompetisi bermain kelereng/ layangan, betapa bangganya
kita ketika mampu menjadi pemenang dalam kompetisi sederhana itu, semangat
berlipat-lipat perasaan bangga, berjalan tegak, dan menyenangkan mendengar
sapaan sahabat yang mengatakan bahwa kita hebat, HEBAT!!!
Banyak kasus yang disebab-akibatkan oleh pemenang
ataupun pihak yang kalah, kalah dalam berkompetisi terkadang memengaruhi alam
bawah sadar seseorang, pola pikir, sehingga mempengaruhi sikap alias perilaku, dalam
mengatasi situasi tersebut terkadang orang tidak kuasa memanagemen pikiran seta
sikap yang disebabkan oleh kekalahan yang sering berujung kekecewaan.
Tulisan ini hanya mencoba menggambarkan
bagaimana sebenarnya kita dalam kehidupan sehari-hari, dalam mengalami phase
dan atau tahapan sebagai pihak yang kalah atau yang menang itulah sebenarnya
kehidupan, betapa hebatnya ketika Sangkuriang mampu membangun candi, betapa
hebatnya Rama ketika menaklukkan Shinta, betapa hebatnya Napoleon dengan
pasukannya, atau betapa luar biasanya Luis Amrstrong, dan banyak contoh
lainnya. Sebenarnya kalau mau diakui, semua aspek dan tahap dalam kehidupan ini
adalah sebuah kompetisi semu. Kenapa semu? Karena sebenarnya tidak ada pemenang
atau pihak yang kalah, semua itu tergantung proses stabilitas emosi dan
psikologi, dalam diri seseorang adalah pemenang orang adalah juara bagi dirinya
sendiri, saat ini, esok ataupun di masa datang. Terkadang kita tak perlu
menjadi pemenang untuk merasa menang karena kekalahan itulah kemenangan. Disanalah
ada kebebasan dan kebahagian alami yang memang telah diberikan kepada setiap
manusia. Sikap IKHLAS
menjadi pemenang pasti, tapi tidak perlu
dilakukan dengan jalan yang tidak baik dan pantas serta di luar kewajaran, suatu
kompetisi memang harus ada pemenang harus ada yang menjadi juara, namun bagaimana
jika proses-proses diraih dengan tidak wajar? Mau dibawa kemana Tropi yang kita
miliki?, Luis Amstrong misalnya, siapa
yang tidak mengenal atau setidaknya pernah mendengar namanya dinobatkan Jawara
secara berturut-turut di Tour De France, sekarang lihatlah hasil-hasil yang
didapatkan telah hancur dalam waktu sesaat karena indikasi kecurangan, sekarang
saya tanya apakah rasa malu disertai rasa yang lain saat ini dirasakan Luis Amstrong?
Apakah akan sama ketika dia tidak menggunakan
dopping tapi dengan kompetisi yang jujur dan dia kalah? Ohh tentu saja sangat
berbeda saya yakin kita bisa merasakannya.
Dalam proses Pemilihan Ketua di sebuah
Organisasi juga merupakan sebuah arena kompetisi yang luar biasa diliputi oleh
trik-trik dan intrik, diliputi oleh rasa bersaing, curiga, serta terkadang
menggunakan segala macam cara untuk menjadi pemenang, wajarkah? Mungkin untuk
sebagian orang wajar, tapi mari kita menggunakan hati nurani untuk bersama
membangun opini sehingga kita tidak terjebak menjadi Pemenang Semu, ketika
sebenarnya kompetisi itu terdapat prinsip-prinsip yang demokratis saya dan kita
mungkin bisa bersepakat bahwa itu mampu menghasilkan pemenang yang terbaik,
aneh terkadang kebanyakan insan lupa meski kemampuan si A, kemampuannya seperti ini dan si B yang membawa
angin perubahan namun kita terjebak dalam suatu dukungan semu.
Jujur, rasa malu sebagai bagian dari
sebuah organisasi harusnya menjadi garda terdepan untuk perubahan, namun menjadi katalis, yang awalnya membawa sejuta komitmen
membangun. Tapi mudahan rasa malu yang ada ini dirasakan oleh pemenang
tersebut, apalagi suguhan intervensi yang sangat luar biasa, sehingga rasanya
tak mampu membawa menu yang baru. Semoga hitunngan waktu akan mampu merubah semuanya,
seorang pemenang yang harusnya menjadi pemenang pasti akan menjadi pememnag
walaupun telah dikalahkan secara inkonstitusional.
Saya merasa menang kenapa? Karena sebenarnya
yang menjadi juara saat ini adalah pemenang semu yang tidak tampil dan hadir
secara alami, saya merasa menang karena kalah di situasi dan kondisi yang serba
diatur dan dikondisikan serta dipaksakan adalah kemenangan, mungkin anda tidak
yakin tapi saya mampu menengadahkan kepala tersenyum puas bahwa kita adalah
pemenang sejati. Maka sekarang nikmatilah rasa kemenangan anda karena itu semu
seperti pemenang/Juara tanpa Trophy.
Perjuangan tak akan pernah berakhir kawan, kita
mampu mebangun serta merefleksikan, mengaplikasikan gerakan muda
yang sadar dan mempunyai tujuan mulia dengan cara yag lebih baik, kau adalah
pejuang saudaraku, letakkan niatmu, singsingkan lengan baju mari kita bersama
membawa angin perubahan ini, andalah juara seutuhnya, andalah juara sejatinya dan
kelak itu pasti akan terwujud dan terbukti.