Selasa, 06 November 2012

JUARA TANPA TROPI


S
emangat seorang/ individu ataupun kelompok ketika mampu menjadi yang terdepan Yudi Syarifmenjadi yang pertama mengalahkan lawan dalam sebuah perjalanan serta proses kompetisi, apakah anda bisa membayangkan betapa indahnya menjadi seorang Pemenang, bahkan ketika kita waktu kecil mengikuti lomba apapun, begitu semangatnya, ingatkah ketika dulu kita bersama sahabat masa kecil sekedar berkompetisi bermain kelereng/ layangan, betapa bangganya kita ketika mampu menjadi pemenang dalam kompetisi sederhana itu, semangat berlipat-lipat perasaan bangga, berjalan tegak, dan menyenangkan mendengar sapaan sahabat yang mengatakan bahwa kita hebat, HEBAT!!!
Rasa itu tentu sudah pernah kita alami, sebaliknya ketika kita tidak mampu menjadi Juara ataupun pemenang apakah rasa yang kita rasakan? Mungkin kita juga pernah merasakan hal yang sama rasanya begitu berat, disertai bumbu- bumbu emosi, siksaan yang utama ketika kita merasakan rasa akan penilaian orang lain yang sepertinya sekali lagi sepertinya menghakimi, meledek, dan mencemooh kita. Setiap orang pasti akan dan pernah merasakan sebagai pemenang dan sebagai pecundang, bahkan dalam perjalanan hidup, ketika kita beranjak dewasa, remaja ketika ada seorang yang ingin kita pacari namun dihantui oleh saingan, aduh kayaknya kita semua pernah ataupun akan berada di situasi seperti itu.
Banyak kasus yang disebab-akibatkan oleh pemenang ataupun pihak yang kalah, kalah dalam berkompetisi terkadang memengaruhi alam bawah sadar seseorang, pola pikir, sehingga mempengaruhi sikap alias perilaku, dalam mengatasi situasi tersebut terkadang orang tidak kuasa memanagemen pikiran seta sikap yang disebabkan oleh kekalahan yang sering berujung kekecewaan.
Tulisan ini hanya mencoba menggambarkan bagaimana sebenarnya kita dalam kehidupan sehari-hari, dalam mengalami phase dan atau tahapan sebagai pihak yang kalah atau yang menang itulah sebenarnya kehidupan, betapa hebatnya ketika Sangkuriang mampu membangun candi, betapa hebatnya Rama ketika menaklukkan Shinta, betapa hebatnya Napoleon dengan pasukannya, atau betapa luar biasanya Luis Amrstrong, dan banyak contoh lainnya. Sebenarnya kalau mau diakui, semua aspek dan tahap dalam kehidupan ini adalah sebuah kompetisi semu. Kenapa semu? Karena sebenarnya tidak ada pemenang atau pihak yang kalah, semua itu tergantung proses stabilitas emosi dan psikologi, dalam diri seseorang adalah pemenang orang adalah juara bagi dirinya sendiri, saat ini, esok ataupun di masa datang. Terkadang kita tak perlu menjadi pemenang untuk merasa menang karena kekalahan itulah kemenangan. Disanalah ada kebebasan dan kebahagian alami yang memang telah diberikan kepada setiap manusia.  Sikap IKHLAS menjadi pemenang pasti,  tapi tidak perlu dilakukan dengan jalan yang tidak baik dan pantas serta di luar kewajaran, suatu kompetisi memang harus ada pemenang harus ada yang menjadi juara, namun bagaimana jika proses-proses diraih dengan tidak wajar? Mau dibawa kemana Tropi yang kita miliki?, Luis Amstrong misalnya,  siapa yang tidak mengenal atau setidaknya pernah mendengar namanya dinobatkan Jawara secara berturut-turut di Tour De France, sekarang lihatlah hasil-hasil yang didapatkan telah hancur dalam waktu sesaat karena indikasi kecurangan, sekarang saya tanya apakah rasa malu disertai rasa yang lain saat ini dirasakan Luis Amstrong? Apakah akan sama ketika dia tidak menggunakan dopping tapi dengan kompetisi yang jujur dan dia kalah? Ohh tentu saja sangat berbeda saya yakin kita bisa merasakannya.
Dalam proses Pemilihan Ketua di sebuah Organisasi juga merupakan sebuah arena kompetisi yang luar biasa diliputi oleh trik-trik dan intrik, diliputi oleh rasa bersaing, curiga, serta terkadang menggunakan segala macam cara untuk menjadi pemenang, wajarkah? Mungkin untuk sebagian orang wajar, tapi mari kita menggunakan hati nurani untuk bersama membangun opini sehingga kita tidak terjebak menjadi Pemenang Semu, ketika sebenarnya kompetisi itu terdapat prinsip-prinsip yang demokratis saya dan kita mungkin bisa bersepakat bahwa itu mampu menghasilkan pemenang yang terbaik, aneh terkadang kebanyakan insan lupa meski kemampuan si A,  kemampuannya seperti ini dan si B yang membawa angin perubahan namun kita terjebak dalam suatu dukungan semu.
Jujur, rasa malu sebagai bagian dari sebuah organisasi harusnya menjadi garda terdepan untuk perubahan, namun menjadi katalis, yang awalnya membawa sejuta komitmen membangun. Tapi mudahan rasa malu yang ada ini dirasakan oleh pemenang tersebut, apalagi suguhan intervensi yang sangat luar biasa, sehingga rasanya tak mampu membawa menu yang baru. Semoga hitunngan waktu akan mampu merubah semuanya, seorang pemenang yang harusnya menjadi pemenang pasti akan menjadi pememnag walaupun telah dikalahkan secara inkonstitusional.
Saya merasa menang kenapa? Karena sebenarnya yang menjadi juara saat ini adalah pemenang semu yang tidak tampil dan hadir secara alami, saya merasa menang karena kalah di situasi dan kondisi yang serba diatur dan dikondisikan serta dipaksakan adalah kemenangan, mungkin anda tidak yakin tapi saya mampu menengadahkan kepala tersenyum puas bahwa kita adalah pemenang sejati. Maka sekarang nikmatilah rasa kemenangan anda karena itu semu seperti pemenang/Juara tanpa Trophy.
Perjuangan tak akan pernah berakhir kawan, kita mampu mebangun serta merefleksikan, mengaplikasikan gerakan muda yang sadar dan mempunyai tujuan mulia dengan cara yag lebih baik, kau adalah pejuang saudaraku, letakkan niatmu, singsingkan lengan baju mari kita bersama membawa angin perubahan ini, andalah juara seutuhnya, andalah juara sejatinya dan kelak itu pasti akan terwujud dan terbukti.