Selasa, 20 Maret 2012

EKSKEKUSI RUMAH DI BTN GRAND VALLEY SEMPAT RICUH


DESA BATULAYAR BARAT: Eksekusi lahan (rumah) dengan luas sekitar 2 Are di jalan Ester Nomor 5 BTN Grand Valley Dusun Batu Bolong Desa Batulayar Barat sempat ricuh. Aksi saling dorong antara pihak aparat keamanan Polres Lombok Barat dengan kuasa hukum dan penduduk setempat pun tak terhindarkan. Hal itu terjadi sejak pukul 10.00. Permasalahan pun cukup pelik. Nama pemilik asalnya Supratman, dari Lombok Tengah, karena tidak bisa melunasi hutang, rumah ini dilelang, sekarang pemohon eksekusi atas nama Damanik, dia menang di pelelangan. Jadi pemohon sekarang menuntut untuk mengosongkan rumah ini. Tapi saat ini rumah tengah di kontrak oleh seorang bule (tourist), demikian cerita Muhamad Sadia selaku Kepala Desa Batulayar.  Kelanjutannya kita belum tahu, lanjut sang Kades.
Rumah yang terlihat di belakang warga merupakan Objek
Eksekutor dari Pengadilan Negeri pun membacakan putusan untuk eksekusi. Hanya saja, eksekutor dari Pengadilan tidak memiliki bukti fisik berupa Sertifikat kepemilikan dan syarat-syarat lainnya. Anda ini tidak memiliki hak untuk melakukan eksekusi, mana bukti kepemilikan anda, begitu teriak kuasa hukum dari pihak termohon. Sementara kuasa hukum lainnya mengatakan bahwa kita akan membela klein kita sampai titik darah terakhir. Lebih baik anda semua pulang, mana Damanik yang mengaku pemilik rumah ini, anda tidak tahu menahu tentang permasalahan ini, ini aparat pemerintah tidak menahu aturan perundang-undangan., begitu teriakan beberapa kuasa hukum termohon yang hadir di tempat tersebut dan diamini oleh warga sekitar. Ini bisa merusak nama pariwisata di Senggigi, apalagi yang sedang mengontrak rumah dan yang diperintah untuk dikosongkan ini orang asing, sahut salah seorang warga yang memantau jalannya eksekusi.

Senin, 19 Maret 2012

PENARIKAN MAHASISWA PPL di MA ISHLAHUL MUSLIMIN SENTELUK

DESA SENTELUK: Meskipun belum waktunya, penarikan mahasiswa dan mahasiswi yang ditugaskan terpaksa ditarik lebih awal walau dengan simbolis. Penarikan sekelompok mahasiswa yang berasal dari Universitas Nahdhatul Wathan (UNW) Mataram mestinya ditarik pada tanggal 24 Maret 2012, namun berhubung antara pihak sekolah dan kampus tidak memiliki banyak waktu alias sibuk, memaksa antara pihak sekolah dan universitas mengambil kata sepakat. Meskipun demikian, mahasiswa dan mahasiswi yang menjalankan kegiatan pelatihan mengajar di sekolah tidak langsung angkat koper melainkan menunggu tanggal penarikan yang sebenarnya. Dengan kata lain, mahasiswa yang bertugas masih membantu aktifitas sekolah. Hari H penarikan yang sesungguhnya berarti tidak ada acara, mungkin sekedar salam-salaman, begitu ujar Opik salah satu mahasiwa yang hadir.
Memang, saat-saat ini sekolah sedang disibukkan oleh beberapa kegiatan; Mid semester, Ujian Akhir Madrasah Bertaraf Nasional (UAMBN), serta Ujian Nasional (UN) yang semakin dekat untuk Madrasah Aliyah. Hadir dalam acara tersebut Ketua Komite, Kepala Sekolah MA, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari pihak Universitas NW Mataram.
M
ewakili Ketua Yayasan Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin, Drs. H. Sanusi dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas segala partisipasi dan kontribusi mahasiswa di sekolah ini, khususnya di Madrasah Aliyah. Bukan perpisahan yang kutangisi, namun pertemuan yang kusesali, begitu ujar Sanusi dalam sambutannya.
Dari pihak kampus pun menyampaikan rasa terima kasih atas adanya peluang, serta diterimanya mahasiswa-mahasiswi melakukan uji coba atau pelatihan mengajar di tempat ini. Begitu ujar Dosen Pembimbing dari Universitas Nahdhatul Wathan. Sebagai hadiah atau kenang-kenangan mahasiswa meninggalkan cinderamata dan beberapa bingkisan kecil yang diperuntukkan kepada sekolah. Semoga bisa bermanfaat. 

Minggu, 18 Maret 2012

SOLIDARITAS MASYARAKAT KAMPUNG


DESA BATULAYAR: Sebanyak 71 orang anak yatim-piatu berkumpul di Masjid Nurul Jamaah Dusun Kekeran Desa Batulayar Kecamatan Batulayar untuk menerima santunan dari masyarakat setempat, yaitu dusun Kekeran. Sejumlah anak yatim tidak hanya berasal dari dusun tersebut melainkan dusun-dusun tetangga, antara lain; Dusun Orong, Melase, Apit Aik, Teloke, dan dusun Tato Desa Sandik Kecamatan Batulayar. Ini merupakan acara tahunan kita, kita menggelar pada bulan Rabi’ul Awwal, atau sehabis Maulid, sumber dananya dari swadaya masyarakat, demikian cerita Hilmi Taisir selaku Panitia. Ini khusus acaranya anak yatim, sengaja kita gelar, begitu Taisir.
Acara yang dipusatkan di Masjid tersebut dihadiri oleh tokoh agama, tokoh pemuda, serta tokoh-tokoh masyarakat dari dusun setempat. Diiringi dengan pembacaan-pembacaan shawalat-shawalat Nabi, serta pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, acara berjalan hingga menjelang shalat Ashar. Dari 71 anak yatim yang hadir tahun ini masing-masing mendapatkan uang Rp. 90.000 (Sembilan puluh ribu rupiah) dari pantia penyelenggara. Tidak hanya itu, anak yatim yang hadir di Masjid Nurul Jamaah juga disediakan hidangan yang telah dipersiapkan dan berasal dari swadaya masyarakat.
Event-event di atas memang masih eksis di masyarakat pedesaan atau perkampungan, bahkan sepertinya menjadi adat-budaya yang dilestarikan. Hal ini mengindikasikan bahwa tenggang rasa, kepedulian, loyalitas, serta  jalinan ukhuwah pada  masyarakat perkampungan masih tinggi bila dibandingan dengan masyarakat yang tinggal dan hidup di daerah perkotaan. Pagar rumhanya pun tinggi-tinggi, hidupnya pun sudah nafsi-nafi, begitu lirik H. Rhoma Irama dalam tembang yang berjudul Ibukota. Dengan kata lain masih “sedikit kepedulian” masyarakat/ orang yang tinggal di perkotaan dibandingkan dengan yang tinggal dan hidup di Desa.

Jumat, 16 Maret 2012

JEMBATAN CINTA AMBRUK


DESA SANDIK: Tiupan angin kencang yang disertai dengan derasnya curah hujan akhir-akhir ini membuat masyarakat resah akan keselamatan hidup mereka. Pepohonan yang tumbang yang diakibatkan oleh angin sudah pun semakin meningkat. Tidak hanya itu, kemarin dini hari, Jembatan Cinta (julukan warga) yang berada di Dusun Perempung Desa Sandik Kecamatan Batulayar roboh total dihantam angin kecang. Akses jalan menuju Desa Sesele Kecamatan Gunungsari itu merupakan jalur alternative atau jalan pintas untuk memasuki wilayah Batulayar maupun Gunungsari. Kemungkinan robohnya sekitar tadi subuh, sebut salah seorang warga yang tinggalnya dekat dengan lokasi kejadian. Beruntungnya, hingga saat ini tidak ada korban, demikian  terang warga tersebut. Kalau memang kemarin sore, apalagi kan sekarang ada pertandingan sepak bola di sebelahnya, atau malam hari mungkin kita tahu. Masih banyak orang yang melintas hingga jam 1 malam, lanjut wanita tua itu menuturkan.
Disamping sudah lama dan usang “Jembatan Cinta” memang sudah tidak layak pakai. Dengan kata lain, sebelum kejadian, seharusnya pihak terkait mengantisipasi. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kini jalur atau jembatan selebar satu meter tersebut tinggal bangkai. Sebagian dari bahan  jembatan terbuat dari kayu, dan pada saat roboh, kayu tersebut hanyut terbawa derasnya arus air (perhatikan gambar).
Ditambahkan lagi, efektif dua minggu sekarang kini, Even Sesele Cup (Sepak Bola) sedang bergulir. Artinya, berjubelnya orang yang mengakses jalan untuk menyaksikan pertandingan setiap sore melalui jembatan tersebut, dan ditambah lagi dengan pengguna jalan biasa, memaksa jembatan harus berkekuatan ekstra. Tak heran, jika jembatan yang berjuluk jembatan cinta tersebut tidak mampu menahan beban yang menyebabkannya putus.
Bagi warga setempat yang sudah terbiasa mengakses jalan tersebut merasa kesulitan, kecewa, karena mereka harus menempuh jalur yang lebih jauh daripada sebelumnya. Semoga ada perhatian dari pihak-pihak terkait akan keberadaan serta kebutuhan masyarakat tersebut akan adanya jalan alternative lain.

Rabu, 14 Maret 2012

SOSIALISASI UNDANG-UNDANG PKDRT dan PA


BATULAYAR: Triwulan pertama tahun 2012 ini, lagi-lagi pemerintah Kabupaten Lombok Barat yang bekerja sama dengan sejumlah LSM yang ada mengadakan sosialisasi kepada masyarakat wilayah Kecamatan Batulayar. Bertempat di Aula Sanggar Seni Kecamatan Batulayar sosialisasi perundang-undangan PKDRT dan Perlindungan Anak pun digelar sejak pukul 09.30 Wita. Dan bertindak selaku penyelenggara kegiatan adalah Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Lombok Barat yang menghadirkan utusan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Santai dan utusan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelangi selaku prensenter pada acara yang digelar hingga pukul 12.50
Mewakili Camat Batulayar, Burhanudin menyapa serta menghimbau para peserta sosialiasi akan perlunya pemahaman terhadap Undang-Undang PKDRT dan PA. Barangkali merupakan tindak lanjut dari dari sosialisasi Program Keluarga Harapan (PKH) yang digelar sebelumnya di tempat ini pula beberapa bulan sebelumnya, demikian ungkap Burhanudin selaku Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Batulayar.
Sementara pengantar yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan pada BKBPP Lombok Barat, Etty Swandari mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan pertemuan yang keempat dari kegiatan  yang pernah digalang di Kecamatan lain. Dan ini merupakan Kecamatan terakhir yang kita kunjungi untuk melakukan sosialisasi, begitu penyampaian Kabid PP BKBPP Lombok Barat kepada hadirin dan hadirat.
Seperti tema yang ada, dari dua presenter yang hadir, secara bergantian para penyaji menyampaikan materi. Berawal dari LSM Santai, Dian Ariani yang mengulas secara detail tentang kehidupan rumah tangga, permasalahan yang sering menimbulkan konflik kepentingan yang berimplikasi pada kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan tidak hanya dilakukan oleh kaum Adam, namun kaum Hawa pun sering mengambil bagian dari tindakan tersebut, begitu urai Ariani dalam presentasi yang disampaikan. Lebih lanjut Ariani banyak menyinggung sector-sektor konflik seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, Ariani menjelaskan secara rinci.
Tema perlindungan terhadap anak menjadi tema terakhir yang dielaborasikan oleh Selly Sembiring. Selly menjelaskan pasal demi pasal, vonis pelaku kekerasan terhadap anak dibawah umur, anak terlantar, bahkan di saat menyebut dan menjelaskan istilah Inses (kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat) para peserta banyak yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari dua tema yang disampaikan, banyak dari peserta yang menanggapi dan melakukan sharing sebelum akhirnya kegiatan ditutup langsung oleh Kabid PP pada BKBPP Kabupaten Lombok Barat.

Selasa, 13 Maret 2012

MENJELANG PENERBITAN e-KTP


Kantor Camat Batulayar
BATULAYAR: Menjelang persiapan pembuatan e-KTP yang rencananya akan beroperasi pada awal bulan April mendatang, pemerintah Kecamatan Batulayar dalam hal ini Camat Batulayar Drs. Mujitahidin melakukan pembenahan di kantornya. Salah satu yang sedang dalam proses pengerjaan adalah pembuatan tempat antrian bagi masyarakat untuk pelayanan atau pengurusan e-KTP. Adapun tempat yang dimanfaatkan oleh Pak Camat sebagai tempat antrian untuk pelayanan e-KTP adalah bagian belakang kantor sebelah timur.
Lokasi itu diperuntukkan bagi masyarakat sebagai tempat tunggu e-KTP. Belum ada keterangan lebih jelas mengenai sumber dana atau anggaran yang digunakan untuk pembuatan lokasi antri tersebut. Artinya, sementara ini Mujitahidin selaku Camat harus merogoh koceknya sendiri untuk menalangi proyek, singkatnya berkorban demi kepentingan umum.
Latar belakang pembuatan lokasi antri tersebut merupakan salah satu pertimbangan dari Camat demi tertib dan lancarnya pelayanan e-KTP. Pertimbangan lain yang menjadi landasan pemikiran Drs. Mujitahidin untuk membuat lokasi antri barangkali agar tidak tertanggunya para pegawai kecamatan yang tengah melakukan aktifitas oleh masyarakat yang tengah mengurus Kartu Tanda Penduduk.
Pada apel pagi tadi yang dipimpin langsung oleh Camat, dalam ceramahnya menyinggung system pelayanan atau adminitrasi yang ada di lingkup kecamatan. Jadi pelayanan harus tetap baik, kita jangan mempersulit masyarakat, tetapi jangan juga terlalu mempermudah. Siapapun harus kita layani dengan baik, meskipun itu musuh. Sebagai abdi kita harus bisa melaksanakan tugas dan fungsi kita selaku pelayan masyarakat sebagaik mungkin, jangan terlalu saklek, sampai menyakiti, apalagi membuat orang tersinggung begitu ungkap Mujitahidin dalam ceramah pagi mengingatkan jajarannya.  

Senin, 05 Maret 2012

AYO KE POSYANDU


DESA BATULAYAR: Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang merupakan salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh, dari dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak balita. Posyandu adalah wadah pelayanan terpadu yang dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat guna mempercepat peningkatan kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak dan keluarga. Adapun diadakannya tujuan Posyandu adalah menghimpun potensi masyarakat untuk berperan serta secara aktif meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu, bayi, balita dan keluarga serta mempercepat penurunan angka kematian ibu, bayi dan balita sesuai yang dicanangkan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Di Dusun Teloke sebanyak 181 bayi dan Balita sedang dicek kesehatannya oleh petugas dari Puskesmas Meninting Kecamatan Batulayar. Pelayanan Posyandu yang dipusatkan di rumah Kepala Dusun Teloke Tengah (Martadi). Pelayanan ini meliputi Penimbangan Berat Badan anak, gizi, imunisasi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), KB dan penanganan penyakit diare. Kegiatan ini diadakan setiap bulan, petugas dari Puskesmas memusatkan pelayanan di sini dan dibantu oleh beberapa kader, begitu ungkap Kepala Dusun Teloke Tengah saat memantau pelaksaan kegiatan Posyandu.
Dari data yang ada di tangan petugas bahwa jumlah anak yang diperiksa merupakan gabungan dari dua dusun setempat, yaitu Dusun Teloke Lauk dan Dusun Teloke Tengah Desa Batulayar Kecamatan Batulayar. Sejak dahulu memang Posyandu dipusatkan di rumah Kepala Dusun untuk memudahkan ibu-ibu khususnya mengontrol buah hatinya.
Adapun tentang informasi atau jadwal kunjungan petugas pemeriksa dari kesehatan Kepala Dusun mengatakan, biasanya 1 (satu) hari sebelumnya kita informasikan, atau malam  hari kita umumkan melalui pengeras suara Masjid (loudspeaker). Bisa juga kabar disebarkan melalui kader-kader Posyandu yang ada di masing-masing dusun. Kader-kader tersebut memang ditugaskan sebagai tenaga bantuan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, mereka sudah biasa menangani hal-hal tersebut lanjut Martadi selaku Kepala Dusun Teloke Tengah di kediamannya.