Jumat, 12 Oktober 2012

PENDATAAN KESEHATAN OLEH MAHASISWA STIKES DI BENGKAUNG


Saiful Nazar (Sekdes Bengkaung)
Setelah resmi menjadi desa definitive, kini Desa Bengkaung tak luput dari perhatian berbagai pihak. Perkembangan pembanguan di desa mulai terlihat jelas, Kantor Baru nan megah yang diperkirakan 80 persen, sekarang Desa yang dipimpin oleh H. Junaidi tersebut sedang memprogramkan untuk membangun Puskesmas Pembantu (Pustu). Desa yang sebelumnya berada di bawah bendera Lembahsari tersebut kini mandiri sudah.

Kamis, 11 Oktober 2012

BATULAYAR; STOP BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN


Saat ini, Kecamatan Batulayar mendapatkan penghargaan dalam bidang kesehatan yaitu terbebasnya masyarakat dari membuang air besar secara sembarangan alias  ODF (Open Defecation Free). Buang Air Besar secara sembarangan atau sembrono merugikan kesehatan diri sendiri an sich namun juga imbasnya akan dirasakan oleh orang lain serta lingkungan sekitar. Penyakit-penyakit menular biasanya menjangkit dikarenakan kotoran yang tercecer dimana-mana.

Selasa, 09 Oktober 2012

BERADAPTASI DENGAN PERUBAHAN


Selalu beradaptasi dengan perubahan, kalimat itulah yang paling tepat dalam pikiran saya saat ini. Kalimat ini seolah menjadi inspiratif buat diri saya sendiri. Ya begitulah. Sebagai seorang staf kontrakan di instansi pemerintah, bergelut dengan para PNS, mendengar kabar-kabar burung, gossip, sikap jengah pegawai dan atasan, hampir menjadi sarapan tiap hari. Lagi-lagi saya harus bertekad dengan kata adaptasi dengan perubahan yang selalu terjadi. Baik di dalam kantor maupun di luar kantor. Namun sikap-sikap jengah pegawai, cari muka (carmuk) seolah tertutupi ketika saya memasuki ruangan Sekretariat Kecamatan Batulayar yang selalu ceria dengan personil di dalamnya. Ruangan yang dihuni oleh Sekcam, Kasubbag Keuangan, Kasubbag Program dan Perencanaan serta Bendahara dan Pembantu Bendahara Kecamatan

Senin, 08 Oktober 2012

BATULAYAR MENYAMBUT SUMPAH PEMUDA


Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang, Kecamatan Batulayar dipadati dengan berbagai acara. Acara untuk menyambut Hari Pemuda tersebut sejak minggu ini mulai dipersiapkan. Acara pada bulan Oktober hingga Nopember di Kecamatan sangat padat. Mulai dari Persemi (Perkemahan Sabtu-Minggu), acara bersih-bersih pantai, serta pemberantasan jentik nyamuk, dan masih banyak lagi. Begitu urai Camat Batulayar saat membuka pertemuan di Aula Kecamatan Batulayar tadi pagi.

Sabtu, 06 Oktober 2012

MGMP; HARAPAN PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN MADRASAH


Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) semester  ganjil tahun 2012 kembali diselenggarakan. Kali ini MGMP dipusatkan di Pondok Pesantren al-Dienul Qayyim Kapek Kecamatan Gunungsari. Kegiatan ini pula merupakan bentuk kerja sama antara guru-guru madrasah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan khususnya yang berbasiskan madrasah. Batulayar-Gunungssari merupakan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) yang didalamnya mengurus kegiatan penyelenggaraan sekolah; Midle Test, Ujian Akhir Sekolah.
Ajang Musyawarah Guru Mata Pelajaran ini diharapkan sebagai bentuk unifikasi antara guru-guru mata pelajaran sesuai bidang masing-masing dalam mengelola pendidikan di sekolah; penyatuan visi-misi dalam membuat soal ujian, entri data, dan sebagainya. Kegiatan ini serasa sangat bermanfaat dikarenakan masing-masing guru mata pelajaran dapat saling bertukar informasi dengan guru yang berasal dari sekolah yang berlainan. Kekurangan-kelebihan, metode yang diterapkan dalam mengajar, pengatasan siswa yang nakal di kelas, etc.
MGMP melibatkan semua guru mata pelajaran di Madrasah. Namun pada pertemuan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren a-Dienul Qayyim menghadirkan guru-guru; Kimia, Bahasa Indonesia, Tekonologi Informasi dan Komunikasi, dan Ekonomi-Akuntansi. Dalam acara penutupan yang disampaikan oleh Ahmad Juaini, Lc selaku Sekretaris penyelenggara MGMP mengatakan bahwa, untuk pertama ini memang langsung dipusatkan di pondok ini sehubungan dengan pimpinan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) untuk Madrasah Aliyah berada di tempat ini. Untuk mata pelajaran yang lain, kita akan usahakan bergiliran, seperti di Pondok Pesantren Al-Aziziyah, atau Belencong, demikian keterangan panitia sebelum membubarkan acara.  Semoga dengan adanya Musyawarah Guru ini pendidikan di Indonesia pada umumunya menjadi lebih berkualitas. Amien.

Jumat, 05 Oktober 2012

PASAR KULINER PUSUK LESTARI


Pasar Kuliner di Pusuk Lestari
Jika mendengar kata kuliner, biasanya kita terperangah dengan ciri khas, utamanya makanan. Di Kecamatan Batulayar, dari dua Pasar Kuliner yang telah didirikan; di Desa Batulayar dan di Desa Pusuk Lestari, pasar kuliner tersebut masih terkesan biasa-biasa saja. Sejauh ini baik pasar kuliner yang terdapat di Batulayar maupun di Pusuk Lestari, Pasar Kuliner Pusuk Lestari yang juga merupakan pintu gerbang masuk ke Kabupaten Lombok Utara tersebut sedikit lebih ramai.
Jika memperhatikan bahan dagangan atau makanan yang dijajakan di dua lokasi Kuliner itu, memang hampir sama, hanya saja Pasar Kuliner Pusuk Lestari memiliki nilai plus. Tersedianya minuman “TUAK MANIS” di lokasi tersebut menjadi nilai tambah. Tidak hanya itu, jika menghadap ke sebelah utara, lokasi perbatasan wilayah Lombok Barat dan Lombok Utara tersebut terlihat sangat indah dan menawan. Pemandangan alam yang begitu alami bisa dinikmati sembari menikmati manisnya “Tuak Manis” (air dari pohon Nira).
Sebagaimana diketahui, Desa Pusuk Lestari merupakan Desa yang baru beberapa bulan menjadi Desa definitive/ mekar. Sebelumnya, desa tersebut masih menjadi naungan dari Desa Lembahsari Kecamatan Batulayar. Junaidi yang menjadi Kepala Desa Pusuk Lestari terlihat bersahaja, dengan tampilannya yang seakan-akan lugu mampu mendesign wilayah yang dipimpinnya dengan baik. Tamu-tamu Mancanegara yang singgah di Pasar Kuliner Pusuk Lestari lebih sering terlihat.

FENOMENA SAMPAH DI DAERAH WISATA


Masalah kebersihan dan sampah di daerah wisata masih menjadi masalah serius pemerintah Kecamatan Batulayar. Banyaknya pelaku wisata; hotel, cafĂ©, restaurant etc. tidak sesuai dengan banyaknya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara yang dimiliki. Permasalahan tidak hanya berhenti sampai pada minimnya TPS, melainkan ada beberapa dari pelaku wisata tidak memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Itulah yang menyebabkan “iri” pelaku wisata yang memiliki TPS dikarenakan ditunggangi oleh pelaku wisata lainnya.