Jumat, 20 Januari 2012

PILKADUS DUSUN ARE MANIS



DESA SANDIK: Pemahaman masyarakat akan makna demokrasi semakin jelas terlihat. Dalam memilih seorang pemimpin, dahulu, untuk masyarakat perkampungan atau pedesaan tidak mengenal system atau istilah demokrasi. Mereka cendrung menerapkan system aklamasi (pernyataan kata setuju) untuk menentukan seorang pimpinan.  Beda dahulu dengan sekarang, dengan perkembangan zaman, teknologi yang canggih menuntut, semua serba instant, namun terkadang menuntut manusia untuk terus memacu diri untuk tidak menjadi terbelakang.
Terlepas dari kata demokrasi di atas, pemilihan Kepala Dusun Are Manis Desa Sandik Kecamatan Batulayar berjalan sesuai dengan yang diagendakan panitia. Dengan wajib pilih sebanyak 471 Panitia PILKADUS Dusun Are Manis berlangsung sejak pukul 08.00 hingga pukul 15.00 Wita dan menyatakan calon nomor 2 (dua) sebagai pemenang. Dengan demikian calon nomor urut 2 atas nama DAMSYIAH berhak membimbing dan bertanggung jawab di wilayah Are Manis Desa Sandik Kecamatan Batulayar. Damsyiah menggungguli dua pesaingnya dalam perolehan suara dengan perolehan 279 suara.  Untuk lebih jelasnya daftar perolehan suara masing-masing calon dapat dilihat dibawah ini:
NO
NAMA CALON
PEROLEHAN SUARA
KETERANGAN
1
2
3
4
1
M U K M I N
40 SUARA

2
D A M S Y I A H
279 SUARA

3
H U D A E R I
26 SUARA


Doni selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa pemilihan Kepala Dusun ini diselenggarakan berkenaan dengan adanya kevakuman pemimpin (Kepala Dusun) kurang lebih selama 6 (enam) bulan sejak Kepala Dusun sebelumnya mengundurkan diri dari jabatannya. Melihat keadaan tersebut pemuda mengambil inisiatif untuk membentuk panitia dengan menjaring Balon Kepala Dusun. Hingga waktu yang telah ditentukan, hanya tiga orang yang ikut berpartisipasi.
Harapan kita siapa pun yang terpilih atau menang mari kita menghormati dan menghargai. Untuk yang menang jangan terlalu membusungkan dada, begitu pula bagi yang kalah jangan sampai apriori. Semoga Damsyiah mampu mengemban amanah yang dipercayakan khususnya bagi masyarakat Dusun Are Manis.

Sabtu, 14 Januari 2012

DIBUTUHKAN KERJASAMA YANG BAIK


DESA SENGGIGI: Keberadaan perahu-perahu nelayan yang berada di sekitar pesisir pantai wilayah Senggigi hingga kini masih belum mendapatkan penanganan yang intensif dari pihak terkait. Sepertinya belum ada ketegasan. Awalnya, nelayan-nelayan ini mendaratkan perahu mereka di pesisir pantai depan Hotel Sentosa Senggigi, karena terkesan merusak pemandangan bagi para wisatawan serta kekumuhan yang diakibatkan oleh ulah mereka menjadikan pihak terkait mengambil langkah untuk diterbitkan. Penertiban akan hal tersebut berkali-kali dilakukan namun belum maksimal. Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat, Pol. PP, Pokdarwis, Camat, hingga Kepala Desa, serta aparat-aparat lainnya sepertinya telah jenuh menangani dan menasehati para nelayan. 
Kini, pesisir pantai depan Hotel Dharmarie menjadi sasaran nelayan untuk mendaratkan perahu mereka. Hal ini tetap menjadi PR besar khususnya bagi pengelola pariwisata bagaimana mengatur atau menertibkan perahu nelayan yang menjadi penghalang pengunjung untuk menikmati pantai. Jika diperhatikan, keberadaan perahu nelayan bukan saja menghalangi mereka menikmati indahnya pantai, namun juga terkesan semakin kumuh, sempit. Tepi pantai yang dijadikan sebagai arah lalu-lintas para tamu menjadi sumpek disebabkan keberadaan perahu nelayan yang mangkal.
Pada tahun 2011 yang lalu, ketika menertibkan perahu nelayan yang berada di depan Hotel Sentosa, terjadi adu mulut antara nelayan dengan pihak pemerintah. Alasan mereka tidak ada tempat yang baik selain depan Hotel Sentosa yang dijadikan sandaran. Mereka juga sudah merasa nyaman untuk bersandar di depan Hotel Sentosa serta hujan-badai yang datang  tidak terduga menjadi asalan kuat untuk singgah di tempat tersebut. Penertiban saat itu berjalan hingga beberapa hari, meskipun satu per satu nelayan ada yang mematuhi aturan. Pihak Hotel Sentosa sepertinya sudah merasa lega, namun bagaimana dengan Hotel Dharmarie?...




Kamis, 12 Januari 2012

PUSKESMAS MENINTING; PERLU TINGKATKAN KINERJA


DESA MENINITING: Pelayanan kesehatan secara optimal kepada  masyarakat perlu mendapatkan perhatian pihak terkait, hal ini ditambah dengan kondisi alam yang tidak menentu, terkadang hujan, terkadang panas. Biasanya, dengan kondisi alam seperti ini sering membawa dampak kurang postitif bagi kesehatan, wabah penyakit perlu diwaspadai.
Jika berbicara tentang kesehatan, setiap orang selalu menginginkannya atau setidaknya ingin menghindari penyakit, apapun jenisnya. Kenapa? KARENA SEHAT ITU MAHAL. Kesehatan dirasakan sangat berharga manakala seseorang ditimpa oleh penyakit. Sudah bisa dipastikan bahwa jika mengalami rasa sakit atau mempunyai penyakit, menuntut orang untuk berpikir tentang kesehatannya, mengerutkan kening, bagaimana untuk menjadi sehat kembali.
SEHAT ITU MAHAL. Kalimat ini menjadi cambuk bagi orang yang tak mampu khususnya. Biaya yang dikeluarkan tidak kecil, dari urusan administrasi, hingga resep harus berani  berkorban, artinya tidak ada yang gratis (free). Meskipun demikian, masih ada saja pelayanan yang agak merepotkan pasien, harus menunggu lama untuk mendapat pelayanan dari para petugas kesehatan.  
SEHAT ITU MAHAL. Sehat itu menjadi tak ternilai harganya, apalagi bagi orang yang memiliki tanggung jawab lebih berat misalnya. Kesehatan menjadi segalanya, untuk bisa tetap beraktifitas, mengais rizki dan sebagainya. Namun bagaimana dengan  orang yang diberi tanggung jawab dalam bidang kesehatan? Penilaian dan pikiran sepertinya sama, SEHAT ITU MAHAL, membutuhkan biaya yang besar. Atau mungkinkah bagi orang-orang tersebut menganggap kalimat itu enteng belaka. Lalu, kapan SEHAT ITU MURAH??? (CMIIW).

Rabu, 04 Januari 2012

H. AKHMAD FAUZI É I WAYAN WIDANA, CIAO


BATULAYAR: Jika pada bulan Maret tahun 2011, Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Batulayar, Christoffel, S. Sstp sudah meningggalkan Kantor Camat Batulayar untuk berpindah sebagai Kepala Sub Bagian Disiplin dan Asrama pada Bagian Administrasi Keprajaan Kampus IPDN Lombok Tengah, di akhir tahun 2011 Kecamatan Batulayar harus kehilangan dua pegawai lagi. I Wayan Widana dan H. Akhmad Fauzi yang ikut menutup karir dikarenakan masa kerja sebagai pegawai habis sudah alias Pensiun. Kepergian H. Akhmad Fauzi meninggalkan ruang kosong pada Kasubbag Keuangan Kantor Camat Batulayar. Berbeda halnya dengan I Wayan Widana hanya sebagai staf biasa. Ni Ketut Seniarsi masih menjadi PLT Kasi Pemerintahan sejak Maret 2011 juga merangkap sebagai Kasubbag Umum dan Kepegawaian, sedangkan Kasubbag Keuangan hingga kini masih lowong. Harus menunggu mutasi-kah untuk mengisi jabatan tersebut…?
Sebagai bentuk perhatian dan penghargaan atasan kepada bawahan, kemarin Camat Batulayar Drs. Mujitahidin membuat acara khusus untuk melepas dua pegawai yang masa kerjanya usai sudah. Acara berlangsung cukup meriah dan dipusatkan di pesisir pantai Batu Layar Barat tersebut menghadirkan semua Kepala Desa se-Kecamatan Batulayar, Muspika, serta seluruh staf Kecamatan. Kita mengucapkan banyak terima kasih khususnya kepada H. Akhmad Fauzi dan I Wayan Widana atas pengabdian, kerja sama mereka, sebagai abdi negara dan masyarakat. Kesalahan dan kekeliruan selama ini atas nama Kecamatan meminta maaf, begitu ungkap Mujitahidin selaku pimpinan wilayah sebelum memberikan cinderamata kepada kedua pensiunan tersebut.

Selasa, 03 Januari 2012

REUNI KIAI MUDA


DESA SANDIK: Setelah sekian lama berpisah, TGH. Abdul Karim, Lc, MA dan TGH. Mujtahidin Abdullah, Lc, MA, mereka bertemu dan sudah menjadi orang sukses. TGH. Abdul Karim menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, sedangkan TGH. Mujtahidin Abdullah disamping menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat juga menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Madrasatul Qur’aniyah Desa Sandik Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat. Dan menjelang awal Semester Genap ini kedua pimpinan Pondok Pesantren kembali bersua. Kunjungan Pondok Pesantren Nurul Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara ini, selain tujuan untuk mempererat tali silaturrahim antar pondok pesantren, kehadiran tamu dari Kabupaten Lombok Barat ini bertujuan pula untuk melakukan “study banding”. Secara kebetulan kedua pimpinan pondok pesantren (Pimpinan Pondok Pesantren Madrasatul Qur’aniyah dan Pondok Pesantren Nurul Bayan) sama-sama merupakan alumnus Gontor-Ponorogo. Kita harapkan kunjungan kita ke sini dapat memberikan take and give antar kita semua, kita disini bersama dengan pembina-pembina pondok pesantren Nurul Bayan, para asatidz dan mahasiswa-mahasiswa Ma’had ‘Aliy begitu sambutan juru bicara pondok pesantren Nurul Bayan, Ustadz Lalu Nurul Bayanil Huda, MA kepada pada acara pembukaan. Meskipun baru kali pertama melakukan kunjungan, bertemunya kedua pimpinan Pondok Pesantren terlihat akrab dikarenakan mereka pernah belajar bersama.
Disamping banyak menguraikan criteria-kriteria pondok pesantren yang maju dan berkarakter kekinian, TGH. Abdul Karim, Lc juga memberikan masukan-masukan yang perlu ditanamkan oleh pondok pesantren. Semua yang akan kita lakukan harus melalui proses, dan nilai-nilai keikhlasan dalam membina dan membangun pondok pesantren sangat perlu untuk ditanamkan, begitu uraian pimpinan Pondok Pesantren Nurul Bayan.  Mengutip apa yang dikatakan oleh Hasyim Muzadi, gelar sarjana itu ada dua, sarjana akademis, yaitu sarjana yang ditelurkan oleh univesitas, institusi atau lembaga pendidikan, dan gelar sarjana masyarakat, yaitu sarjana yang lahir dari masyarakat yang mampu membentuk, membaur serta merubah kea rah yang lebih baik, begitu lanjut Tuan Guru muda tersebut. Selian melakukan kunjungan Pondok Pesantren Madrasatul Qur’aniyah, rombongan akan melalakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri Lombok Barat.