Senin, 02 Mei 2011

Peringatan Hardiknas di Kecamatan Batulayar


Batulayar
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) di halaman Kantor Camat Batulayar berlangsung aman, hanya saja terlihat kurang persiapan. Acara peringatan kelahiran pahlawan pendidikan yaitu Ki Hadjar Dewantara ini sempat tertunda beberapa saat disebabkan adanya sedikit gangguan teknis. Apel yang dijadwalkjan pukul 07.30 tersebut mengulur hingga pukul 08.00.
Nampak keterburu-buruan panitia pelaksana dalam event tahunan tersebut. Dalam hal ini pemerintah kecamatan telah berbuat dalam memfasilitasi, baik tempat, sound system, mimbar, pengerek bendera, dan lainnya, hanya saja penanggungjawab dalam hal ini ada instansi yang seharusnya berperan aktif dalam mengkoordinasikan, dan mengkomunuikasikan bagaimana acara digelar.
UPTD Dikpora Kecamatan Batulayar terkesan kurang respect terhadap acara peringatan Hari Pendidikan Nasional ini. Pasalnya, Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Batulayar, Burhanudin, S. Pd, pun menyayangkan sikap Kepala UPTD Dikpora yang kurang melakukan koordinasi terlebih dahulu. Ini moment pendidikan yang segalanya berada di bawah bendera UPTD Dikpora.  Semoga peringatan-peringatan Hari Pendidikan di tahun-tahun berikutnya tidak terkesan mengecewakan. 

Minggu, 01 Mei 2011

HARDIKNAS; Napak Tilas Perjuangan Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional

 
Jika ada pertanyaan, Siapakah Bapak Pembangunan kita, jawabannya tentu Soeharto. Tetapi, kalau berbicara tentang pendidikan, siapa yang tak kenal dengan Ki Hadjar Dewantara. Suwardi Suryaningrat, inilah nama asli dari Ki Hadjar Dewantara. Lahir tanggal 2 Mei 1889 dan meninggal pada 26 April 1959. Ini merupakan sekilas riwayat Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
Ungkapan Ki Hadjar Dewantara yang hingga kini masih terngiang di telinga; ing ngarso sing tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Atau secara sederhana dapat diartikan; di depan memberi contoh, di tengah membangkitkan kreativitas, dan di belakang memberikan pengawasan. Begitu pentingnya arti pendidikan bagi manusia, khususnya bagi rakyat Indonesia yang masih dalam tekanan colonial membuka mata hati Ki Hadjar Dewantara untuk berbenah, bagaimana agar Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, bermutu, dan bermanfaat bagi kehidupan.  
Imbas dari penjajahan di masa colonial Belanda dan Jepang bagi Indonesia sangat terasa di semua sector kehidupan. Kehidupan yang begitu keras, penuh penuh perjuangan, di tengah-tengah itulah Ki Hadjar Dewantara hadir sebagai juru selamat dalam dunia pendidikan, pada akhirnya menjadi modal utama perjuangan rakyat. Tiada lain adalah pendidikan. Dengan pendidikan kita mengetahui semuanya, dunia bahkan. Dengan bekal pendidikan yang didasarkan pada semangat nasionalisme, patriotisme, dapat membangun jati diri bangsa sebagai manusia yang merdeka, bebas, bermartabat, dan disegani bangsa lain.
Usaha yang Ki Hadjar Dewantara dalam memperjuangkan pendidikan bagi rakyat tidaklah mudah. Ide dan pemikirannya pun menjadi acuan penyelenggaraan pendidikan hingga sekarang. Dengan bahasa yang mudah dimengerti dapat dikatakan bahwa Ki Hadjar ingin membebaskan dan mengeluarkan rakyat dari kebodohan, ketertinggalan hingga lepas dari semua bentuk penjajahan.
Lalu bagaimana dengan sistem pendidikan sekarang? Apakah sama visi dan misi Ki Hadjar Dewantara tersebut telah terwujudkan dalam dunia nyata. Kompleksnya masalah yang tengah melanda bangsa, dari masalah kutu-gajah, apakah karena alasan pendidikan juga...? Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar “Apakah bangsa ini masih membutuhkan Ki Hadjar-Ki Hadjar Dewantara lagi...?

Setiap tanggal 2 Mei seolah menjadi sebuah lambang bagi Ki Hadjar Dewantara. Fantastik. Meskipun diakui banyak cendia pada era tersebut, penulis merasakan belum “meng-Ki Hadjar”. Tanggal 2 Mei seakan mengarahkan kita untuk menjadi manusia, bangsa, rakyat, atau masyarakat yang cerdas, pandai, terlepas dari kebodohan, ketertinggalan, dan berwibawa di mata dunia. Thus, ketika masyarakat Indonesia bisa mencapai target atau dapat mewujudkan visi dan misi yang diidamkan oleh Ki Hadjar Dewantara, berarti makna kalimat; ing ngarso sing tulodo, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani, telah terwujud. Wallahu’ ‘alam.

Sabtu, 30 April 2011

LieBe

Suatu hari Cinta dan Sahabat pergi ke sebuah Desa. Di perjalanannya, tiba-tiba Cinta jatuh ke dalam Telaga. Kenapa? Karena Cinta itu buta. Lalu Sahabat berusaha menolongnya. Kenapa? Karena Sahabat akan melakukan apa pun demi Cinta. Di dalam Telaga Cinta hilang, mengapa? Karena Cinta itu halus, dan mudah hilang jika tidak dijaga, sulit juga mencarinya. Sahabat pun masih mencari dan menunggu Cinta. Mengapa? Karena sahabat yang sejati akan kekal sebagai sahabat yang setia. Jadi, hargai, hormati, sayangilah sahabatmu selagi masih ada dan jangan biarkan dia menangis.

RAPAT PSB MQ BELUM CLEAR


Rapat yang digelar sekitar pukul 20.00 Wita di rumah Kepala Madrasah Tsanawiyah Madrasah al-Qur’aniyah (Habibi, S. Pd.I) dengan tema “Persiapan Penerimaan Calon Siswa Baru) untuk Tahun Pelajaran 2011-2012 Madrasah al-Qur’aniyah (MQ) Dusun Tato Desa Sandik Kecamatan Batulayar belum menemukan titik terang. Dalam rapat yang dipimpin langsung oleh Jalaluddin selaku Kepala MI tersebut juga dihadiri oleh Kepala MTs al-Qur’aniyah. Untuk men-share berbagai masukan, opini, dan strategi yang yang akan diajukan oleh guru-guru MQ yang terkait dengan usaha untuk menjaring santriwan dan santriwati baru, juga masih sebatas wacana yang bersifat intern.
Sebenarnya banyak hal yang belum terungkap dalam forum, namun dikarenakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Qur’aniyah (TGH. Mujtahidin, LC, MA) berhalangan hadir mengikuti rapat menjadi salah satu kendala bagi hadirin dan hadirat untuk melakukan diskusi. Rapat yang dihadiri oleh 70% dari perangkat Pondok Pesantren al-Qur’aniyah sempat berjalan alot, hal itu sangat wajar dikarenakan dari guru-guru yang menghadiri rapat dan yang memberikan opini di sela-sela tanya jawab, berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda. Rapat diakhiri pukul 23.15 Wita dan H. Sadri selaku pemimpin do’a langsung mengakhiri acara.  

Rabu, 27 April 2011

Awas Ulat Bulu

Permasalahan-permasalahan di wilayah Batulayar memang belum usai. Dari persoalan politik, ekonomi, pendidikan, bahkan ulat bulu pun ikut mengambil peran. Kalau berbicara mengenai ulat bulu, siapa yang tidak takut, ngeri…? Kurang lebih satu bulan yang lewat, bahkan minggu lalu terdengar kalau ulat bulu melanda daerah Gerung, kini ulat bulu singgah juga di Batulayar. Ulat bulu menyerang di Dusun Kerandangan Desa Senggigi Kecamatan Batulayar tepatnya di sebuah Kebun belakang Madrasah Tsnawiyah Ridyadhul Wardiyah Dusun Kerandangan Kecamatan Batulayar.
Banyaknya ulat bulu yang menempel di pepohonan kebun warga membuat masyarakat Dusun Kerandangan Desa Senggigi menjadi gerah. Pasalnya, disamping menimbulkan penyakit seperti gatal-gatal, melihatnya juga membuat orang menjadi Hi, hi, hi. Ya takut-lah kata salah seorang warga ketika ditanya mengenai adanya ulat bulu di Dusun tersebut.
Hingga kini ulat bulu masih menjadi momok, bukan saja di daerah Batulayar, daerah-daerah di lingkup Lombok Barat seperti di Kecamatan Gerung pun sudah merasakan akan hadirnya binatang ngeri tersebut. Mengenai bagaimana penanganan tentang ulat bulu, hingga kini belum ada tindakan efektif, baik dari pihak yang berwenang dalam hal ini dinas-dinas terkait. 

AKSI DAMAI (Penolakan Dusun Melase Bergabung)


Batulayar:
Permasalahan di wilayah Kecamatan bak Jamur di musim hujan, kompleks, hilang satu tumbuh seribu. Itulah realita wilayah yang tengah dipimpin oleh Drs. Mujitahidin.
Jika pada minggu kemarin warga Desa Batulayar Induk menggelar aksinya di Kantor Camat Batulayar, untuk menuntut janji dan ingin menyelesaikan permasalahan terkait dengan pemekaran Desa khususnya dengan pihak Kecamatan, pada hari ini giliran Batulayar Barat yang notabene pecahan Batulayar Induk menggelar aksi yang sama. Namun kedatangan puluhan warga Batulayar Barat ini menggelar aksi “DEMO DAMAI”. Dalam orasi yang berlangsung sekitar pukul 10.00 Wita, Koordinator Aksi, Syafi’i menjelaskan beberapa  point perkara kedatangannya di Kantor Camat. Dari plank dan spanduk yang dibentangkan oleh para demonstran, diantaranya bertuliskan tentang ketidaksetujuan sebagian warga Dusun Melase untuk bergabung ke Desa Batulayar Induk. Hal itu diperkuat pula dengan pernyataan langsung Korlap Syafi’i dkk. Camat Batulayar, Drs. Mujitahidin dalam tanggapannya secara langsung menyatakan dukungan atas aspirasi yang telah disampaikan warga Batulayar Barat. Ini sesuai dengan Surat Keputusan yang Bupati Lombok Barat. Masalah pemekaran desa sudah jelas, ada SK Bupati dan tidak bisa diganggu gutat, demikian tandas Mujitahidin. Sebelumnya, para demontran juga menggelar tanda tangan di atas kain (spanduk) berwarna kuning menandakan ketidak-setujuan untuk bergabung ke Desa Batulayar Induk. Dan tidak ada hal yang berbau anarkis dari para demonstran, bukan hanya karena ada kawalan dari aparat, namun sebagai bentuk ketaatan masyarakat kepada pimpinan, demikian ungkap Syafi’i. Dalam aksi tersebut pula Kapolsek Senggigi yang dipimpin oleh Made Puje Wati pun ikut turun mengambil peran untuk pengawalan. Bahkan beberapa anggota Polsek Senggigi juga hadir lebih dulu sebelum datangnya para demonstran untuk menggelar aksi.

Lomba Desa Senggigi


Tahun ini merupakan kali kedua Desa Senggigi Kecamatan Batulayar ditunjuk untuk mengikuti Program Lomba Desa tingkat Kabupaten Lombok Barat. Acara yang menjadi salah satu agenda atau program rutin Kabupaten ini selalu digelar tiap tahunnya.  Hanya saja lomba yang diadakan tahun ini tidak semeriah lomba-lomba yang sebelumnya. Dengan kata lain, jika pada pada lomba-lomba sebelumnya ramai, meriah dan penuh persiapan, namun pada tahun ini terlihat biasa saja.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Camat Batulayar (Drs. Mujitahidin) beserta Ibu PKK Kecamatan Batulayar. Dalam acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 setengah jam tersebut tidak menemui banyak kendala, baik disaat-saat penilai melakukan penilaian maupun persiapan sebelumnya oleh perangkat Desa Senggigi. Acara ini dihadiri oleh Tim Penilai dari tingkat Kabupaten Lombok  Barat, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Kabupaten Lombok Barat. Tujuan diadakannya Lomba Desa tidak lain hanyalah untuk menilai Sistem Administrasi Desa, mengetahui tingkat perkembangan desa, dan lain sebagainya. Pada acara tersebut terlihat juga beberapa staf Kecamatan Batulayar yang ikut berperan dan membantu kelancaran acara.
Memang, jauh hari sebelumnya Camat Batulayar di sela-sela Apel Pagi selalu mewanti-wanti akan banyaknya kegiatan atau agenda yang akan diadakan di wilayah Kecamatan Batulayar seperti halnya Lomba Desa ini. Oleh karenanya, Drs. Mujitahidin, minggu-minggu kemarin sebelum hari H pelaksanaan Lomba Desa ini sering  menugaskan beberapa Kepala Seksi, Kasubbag bahkan Staf, untuk turun melakukan pembinaan administrasi Desa. Begitu juga perangkat-perangkat Desa, dalam hal ini Sekdes-Sekdes selalu diingatkan untuk selalu dan terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kecamatan.